Membaca Tekstualis dan Kontekstualis: Kritik Terhadap Presentasi Narasumber IH

Kita tahu, bahwa kritik dalam wilayah intelektual begitu kental. Namun, kritik tersebut dijawab dengan rangkaian huruf demi huruf sehingga menjadi karya tulis. seperti karya fahmi salim yang mengkiritik pemikiran orang-orang liberal dengan tajuk kritik terhadap studi al-Qur’an liberal , dalam khazanah islam klasik terdapat kritik Ibnu Rusyd yang mengkiritik pemikiran filsafat Al-Ghazali dengan karyanya Tahafut al-Tahafut. Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba memaparkan kritik terhadap salah satu Narasumber dari Mahasiswa prodi IH (ilmu hadits), yang mana pada satu kesempatan, beliau menyatakan bahwa tekstual itu berbeda dengan literal dengan mempertegas pendapatnya yang disandarkan pada buku Abid Rohmanu yang bertajuk Kritik Nalar Qiyasi Al-Jabiri: Dari Nalar Qiyasi Bayani Ke Nalar Qiyasi Burhani. Namun ketika dimintai pertanggunjawaban lebih lanjut terkait kutipan pernyataannya. Beliau malah menyodorkan buku Nalar Tekstual Ahli Hadits karya Ahmad Ubaydi Hasbillah.

Fakta menariknya lagi, melalui salah satu informan dari mahasiswa IAT. Beliau memberikan saran kepada penulis untuk membaca beberapa buku seperti; Arkeolog of Knowledge karya Michel Foucault, Ushul Fiqih Abdul wahab Kholaf yang menurutnya hasil formula nalar tekstual ushulinya imam Syafi’i, dan Islam Nusantara Karya Ahmad Baso. Dengan alasan untuk melebarkan wacana dan khazanah wawasan. Melihat skema jawaban dari beliau melalui informan, penulis dalam hati bergumam “Ya Salam, Fenomena apalagi ini”, sambil tersenyum kecewa. Seorang Mahasiswa yang memiliki predikat sebagai narasumber untuk menyampaikan materi yang tidak begitu mudah, seharusnya memiliki banyak bacaan, agar memiliki beberapa potret dari beberapa sudut. Dengan adanya momen ini, penulis ingin sekali mendengar langsung seorang narasumber tersebut membaca dan mengulas karya ushuli Abdul Wahab Kholaf, agar terjadi kemapanan dalam hati, kalau beliau memang pantas menjadi seorang narasumber.

Berangkat dari fakta tersebut, artikel ini penulis hadirkan, seraya berharap agar para pembaca bijak dalam menelaah suatu bacaan dan jika terdapat kritik, semoga kritik tersebut tidak lahir dalam bentuk cacian atas kekurangan individu kita sebagai manusia. Pertama, Penulis mencoba menyajikan ulasan buku Nalar Tekstual Ahli Hadits karya Ahmad Ubaydi Hasbillah. Nampaknya, karya ini menjadi pijakan narasumber menarasikan presentasinya dan melahirkan kesalahan bahwa tekstual berbeda dengan literal. Namun, faktanya narasumber tersebut mengkambing hitamkan Abid Rohmanu yang mencoba mengulas pemikiran Al-Jabiri terkait rekonstruksi Qiyas. Pada buku Nalar Tekstual Ahli Hadits, Narasumber tidak begitu menguasai ulasan-ulasan yang dipaparkan oleh Ahmad Ubaydi Hasbillah. Bahkan dalam pembukaan buku tersebut, Hasbillah benar-benar menyatakan, “Tekstualisme selalu dikaitkan dengan fundamentalis yang merupakan lahan subur dari radikalisme. Padahal, nyaris tidak ada manusia beragama di dunia ini yang tidak tekstualis, seberapapun kadar tekstualismenya”. Pada hal 22, Hasbillah menyatakan pendapatnya secara pribadi, bahwa, “makna yang paling netral untuk tekstualisme bukanlah pada paradigma pemahaman teks secara literal, harfiah, dan lahiriah, melainkan bermakna ketundukan pada teks. Selama tidak bisa lepas dari teks maka itu disebut tekstualis” Pada hal 65, Hasbillah menyatakan, “Tekstualisme sering didefinisikan sebagai suatu cara pandang yang mengandalkan arti literal suatu teks”. Ringkasnya, Hasbillah melalui disertasinya yang berhasil dipertahankan pada sidang promosi doktor di pascasarjana UIN Syarif  Hidayatullah Jakarta, ingin membuktikan bahwa tekstualis pada era belakangan ini, bukan tekstualis pada semestinya. Dimana pada awal-awal kemunculan islam, tekstualis tidak menimbulkan fundamentalis, radikalisme, ghuluw, atau kondisi semacamnya. Dalam bukunya, Ahmad Ubaidy Hasbillah juga menyatakan, bahwa “tidak seharusnya tekstualis ditandingkan dengan kontekstualis. Karena akan menjadikan salah satu dari kedua istilah tersebut menjadi peyoratif dan klaim sepihak”. hipotesa Hasbillah ini, selaras dengan pandangan Prof. Mujamil Qomar yang menyakatan, “Seorang fundamentalis pasti tekstualis, namun tidak semua tekstualis fundamentalis” pada saat Talk Show bersama Prof. Agil Munawwar dengan tema Dekolonisasi Ilmu Musthalah Hadis: Menghidupkan Kembali Nalar kritis Klasik dalam Kerangka Epistemologi Islam. Menurut Narasumber kegiatan tersebut diagendakan oleh Mahasiswa Tafsir. Namun, faktanya narasumber sekali lagi keliru dalam mencermati suatu keadaan.

Fenomena ekstremisme yang menjadi secuil warna dinamika sosial muncul sebab kesalahan membaca teks. Namun, faktanya kelompok-kelompok tersebut masih diberi predikat tekstualime. Pada satu kondisi, terdapat tekstualisme namun tidak ekstremisme. Dari sinilah bias istilah terkait tekstualis mulai muncul. Sehingga terdapat Narasi, “ekstremisme muncul sebab memahami teks secara literal. Lantas, jika memahami teks tidak secara literal, bagaimana caranya ?. kita ambil contoh. Saya membaca buku islam dan modernitas karya fazlur rahman. Saat saya membaca/kita pada umumnya manusia, kita akan terbuai dengan narasi-narasi yang disampaikan oleh fazlurrahman. Lantas model pembacaan tersebut bukan tekstualis, literal, harfiah. Begitulah kurang lebih dimensi psikis yang dialami oleh kelompok-kelompok puritan serta adanya faktor kepentingan yang melatar belakanginya. dalam beberapa artikel, diksi literalisme memang muncul kepermukaaan, namun pada akhrinya narasinya tetap bermuara pada tekstualistik. Lantas apa background narasumber yang membedakan antara tekstual dan literal, serta ditambah dengan dalih kutipannya yang tidak bisa dibuktikan sama sekali ketika penulis lacak. Sekali lagi, penulis garis bawahi pembacaan terhadap teks secara literal, itu menunjukan kebodohan bukan kejeniusan.

Kedua, pada buku Abid Rohmanu yang bertajuk Kritik Nalar Qiyasi Al-Jabiri: Dari Nalar Qiyasi Bayani Ke Nalar Qiyasi Burhani merupakan Tesis dengan judul Rekonstruksi Teori Qiyas dan Upaya Menjawab Persoalan Hukum Kontemporer: Studi Terhadap Pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri. Ringkasnya, Buku ini mencoba membaca pemikiran Abid al-Jabiri secara deskriptif-analitif yang mengkritik teori Qiyas Konvensional. Berangkat dari permasalahan hukum kontemporer yang semakin kompleks, sementara perangkat metodologis perumusan hukum islam relatif tidak mengalami perkembangan yang signifikan semenjak masa tadwin. Pada buku ini, penulis berani mengatakan, bahwa narasumber mengkambing hitamkan Abid Rohmanu. Karena buku kedua ini, sangat tampak dan begitu jelas bahwa orientasi kajiannya berupa epistemologi hukum islam (ushuli). Jauh sekali, rekomendasi buku yang diberikan narasumber untuk menjawab pertanyaan penulis terkait perbedaan tekstual dan literal. Entah apa motif narasumber sampai menyebutkan tesis Abid Rohmanu atau ia ingin mendklarasikan dirinya, bahwa ia seorang penggiat literasi yang ulung. Wallahu ‘alam.

Ketiga, pada buku ushuli karya Abdul Wahab Kholaf yang merupakan formulasi nalar tekstualnya imam syafi’i, “menurut narasumber”. Mendengar rekomendasi buku ini, penulis semakin bertanya-tanya terkait background keilmuan narasumber. Kenapa narasumber tidak merekomendasikan ushul al-fiqhi al-Islami Wahbah Zuhail atau kepada Jam’ul Jawami’ Tajuddin As-Subki ?, bukankah itu juga formulasi nalar tekstual imam Syafi’i ?, atau bahkan kenapa narasumber tidak secara langsung merekomendasikan ar-risalah, mengingat embrio epistemologi hukum islam bermula dari situ. Wallahu ‘alam.

Keempat, penulis ingin memberikan apresiasi terhadap narasumber terkait buku-buku yang sudah direkomendasikan. Penulis, memberikan saran untuk narasumber agar membaca buku karya  Abdullah Saed dengan tajuk Al-Qur’an Abad 21 hal 38. Pada bagian tersebut Abdullah Saed sangat berhati-hati dalam menarasikan tekstualisme hingga Abdullah Saed sampai kepada kesimpulan klasifikasi terkait tekstualisme, kitab Al-Furuq Imam Al-Qorofi Hal 321 yang menyatakan, bahwa “ jangan pernah menjawab persoalan seorangpun yang datang kepadamu, sebelum kamu mengetahui adatnya”, Argumentasi dan Narasi karya Gorys Keraf, dan Logical Fallacy karya Muhammad Nuruddin. Dengan beberapa rekom buku tersebut, niscaya narasumber akan sadar bahwa tanggungjawab menjadi narasumber tidak mudah, dan harus memiliki khazanah keilmuan dari beberapa sisi.

Kelima dan yang terakhir, penulis bersyukur atas Allah Swt yang telah memberikan kesanggupan kepada penulis untuk mendatangkan buku-buku tersebut, meskipun tidak relatif murah. Dengan rahmat Allah Swt, penulis mampu menguji narasi dan argumen narasumber yang disandarkan pada beberapa karya tersebut, terutama pada karya Ahmad Ubaidy Hasbillah. Penulis berharap, artikel yang tidak sampai 1000 kata ini dibaca dan dijawab oleh narasumber. Karena penulis ingin mengerti seberapa jauh dan dalam anilisa narasumber terkait sumber-sumber yang penulis jadikan counter terhadap presentasinya. Sebagai narasumber, tidak sulit bagi beliau untuk menulis beberapa ribu kata, ditambah beliau memiliki karya tulis berupa artikel yang sudah submit pada jurnal.

Kesimpulan: presentasi narasumber tidak begitu memuaskan, sehingga memunculkan bias pemahaman audiens selepas diskusi. Karena narasi yang dibangun tidak begitu memperhatikan wilayah tekstualis dan kontekstualis yang diakibatkan pada fokus satu sumber tanpa menilik dan mengelaborasi sumber-sumber yang lain.

Nb: Penulis sengaja menebalkan beberap diksi yang menjadi jantung artikel ini. dalam artikel ini, penulis secara sengaja tidak memaparkan content tekstualis dan kontekstualis. pembahasannya saja, hanya meliputi kritik terhadap narasumber yang memiliki perbedaan pemahaman antara tekstualis dan literal, tanpa maraji' yang jelas.

 

Wallahu ‘Alam Bisshowab


0 Response to "Membaca Tekstualis dan Kontekstualis: Kritik Terhadap Presentasi Narasumber IH"

Posting Komentar

Membaca Tekstualis dan Kontekstualis: Kritik Terhadap Presentasi Narasumber IH

Kita tahu, bahwa kritik dalam wilayah intelektual begitu kental. Namun, kritik tersebut dijawab dengan rangkaian huruf demi huruf sehingga m...

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel